Lagu

Free Music Online
Free Music Online

free music at divine-music.info

Saturday, October 20, 2012

B. Arab kelas X. isim, fiil, huruf. dll


NAKIRAH - MA'RIFAH
نَكِرَة - مَعْرِفَة
Menurut penunjukannya, Isim dapat dibagi dua:
1) ISIM NAKIRAH atau kata benda sebarang atau tak dikenal (tak tentu).
2) ISIM MA'RIFAH atau kata benda dikenal (tertentu).
Isim Nakirah merupakan bentuk asal dari setiap Isim, biasanya ditandai dengan huruf akhirnya yang bertanwin ( ً  ٍ  ٌ  ). Sedangkan Isim Ma'rifah biasanya ditandai dengan huruf Alif-Lam ( ال ) di awalnya.
Contoh Isim Nakirah: بَيْتٌ  (= sebuah rumah), وَلَدٌ  (= seorang anak)
Contoh Isim Ma'rifah: اَلْبَيْتُ  (= rumah itu), اَلْوَلَدُ (= anak itu)
Coba bandingkan dan perhatikan perbedaan makna dan fungsi antara Isim Nakirah dan Isim Ma'rifah dalam dua buah kalimat di bawah ini:
ذَلِكَ بَيْتٌ. اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ.
= Itu sebuah rumah. Rumah itu baru.
جَاءَ وَلَدٌ. اَلْوَلَدُ مُؤَدِّبٌ.
= Datang seorang anak. Anak itu sopan.
Selain Isim yang berawalan Alif-Lam, yang juga termasuk Isim Ma'rifah adalah:
1. Isim Alam (Nama).
Semua Isim 'Alam termasuk Isim Ma'rifah, meskipun diantara Isim 'Alam tersebut ada yang huruf akhirnya bertanwin.
Contoh:  أَحْمَدُ  (= Ahmad), عَلِيٌّ (= Ali), مَكَّةُ (= Makkah)



2. Isim Dhamir (Kata Ganti). 
Yaitu kata yang mewakili atau menggantikan penyebutan sesuatu atau seseorang atau sekelompok benda/orang.           Contoh: أَنَا  (= aku, saya), نَحْنُ (= kami, kita), هُوَ (= ia, dia)
3. Isim Isyarah (Kata Tunjuk)
Isim Isyarah. Pada dasarnya, ada dua macam Kata Tunjuk:                         a) Isim Isyarah atau Kata Tunjuk untuk yang dekat: هَذَا (=ini).
Contoh dalam kalimat:
 هَذَا كِتَابٌ (= ini sebuah buku)
b)
 Isim Isyarah atau Kata Tunjuk untuk yang jauh: ذَلِكَ (=itu).
Contoh dalam kalimat:
 ذَلِكَ كِتَابٌ (= itu sebuah buku)
4. Isim Maushul (Kata Sambung)
Isim Maushul (Kata Sambung) adalah Isim yang berfungsi untuk menghubungkan beberapa kalimat atau pokok pikiran menjadi satu kalimat. Dalam bahasa Indonesia, Kata Sambung semacam ini diwakili oleh kata: "yang".
Bentuk asal/dasar dari Isim Maushul adalah: الَّذِيْ (=yang). Perhatikan contoh penggunaan Isim Maushul dalam menggabungkan dua kalimat di bawah ini:
Kalimat I
جَاءَ الْمُدَرِّسُ
= datang guru itu
Kalimat II
اَلْمُدَرِّسُ يَدْرُسُ الْفِقْهَ
= guru itu mengajar Fiqh
Kalimat III
جَاءَ الْمُدَرِّسُ الَّذِيْ يَدْرُسُ الْفِقْهَ
= datang guru yang mengajar Fiqh
Kalimat III menghubungkan Kalimat I dan II dengan Isim Maushul: الَّذِيْ
Bila Isim Maushul itu dipakai untuk Muannats maka: الَّذِيْ menjadi: الَّتِيْ
جَاءَتِ الْمُدَرِّسَةُ الَّتِيْ تَدْرُسُ الْفِقْهَ
= datang guru (pr) yang mengajar Fiqh itu




5. Isim yg dima’rifahkan oleh AL.
contoh:الْكِتَابُ، الطَّالِبُ
kitab itu, siswa itu
6. Isim Mudhaf pada isim ma’rifah.
contoh:كِتَابِيْ جَدِيْدٌ. كَلاَمُ عَلِيٍّ بَلِيْغٌ
kitabku baru, perkataan Ali fasih
















Mubtada’ Dan Khabar

اَللَّفْظِيَّةِ اَلْعَوَامِلِ عَنْ اَلْعَارِي اَلْمَرْفُوعُ اَلِاسْمُ هو : اَلْمُبْتَدَأُ
Mubtada adalah isim yang dirafa’kan yang Kosong dari amil-amil sebangsa lafadzh.

  إِلَيْهِ اَلْمُسْنَدُ اَلْمَرْفُوعُ اَلِاسْمُ هُوَ : وَالْخَبَرُ
Khabar adalah isim yang dirafa’akan yang disandarkan kepada mubtada’. 

Contoh :
·  تِلْكَ مَكْتَبَةٌ, هِيَ واسعةٌ
· ذَلِكَ كِتَابٌ, هُوَ عَلَى الْمَكْتَبِ
· الْمَكْتَبَةُ, واسعةٌ
· الْكِتَابُ, عَلَى الْمَكْتَبِ
Contoh susunan jumlah (kalimat) di atas, kesemuanya adalah jumlah ismiyyah.
Hanya saja kalimat pertama dan kalimat kedua berbeda pada khabarnya, di mana khabar pada kalimat pertama adalah berupa isim sifat,dan kalimat keduanya khabar berupa syibhul jumlah. 
Sedangkan هِيَ dan هُوَ adalah sama-sama mubtada’ berupa dhamir munfashil
Dan pada kalimat ketiga dan keempat mubtada’nya adalah isim ma’rifat berupa isim yang ada alif lamnya.
Apabila kita perhatikan, pada empat susunan contoh kalimat di atas, maka kita akan dapatkan bahwa mubtada’ terletak di awal kalimat sebelum khabar, karena pada prinsipnya memang mubtada adalah isim marfu’ yang terdapat di awal kalimat.

Kalimat
Perlu kita ketahui bersama bahwa sebuah kalimat dalam bahasa arab itu tersusun dari tiga hal:
1.    Fi’il (kata kerja)
2.    Isim (kata benda)
3.    Huruf yang memiliki makna
Sekarang, mari kita bahas secara singkat istilah-istilah yang telah saya sebutkan di atas;
Pertama: Fi’il (الفعل )
Al Fi’lu atau fi’il secara bahasa memiliki makna perbuatan atau kata kerja. Sedangkan menurut istilah dalam ilmu nahwu, fi’il adalah kata yang menunjukkan suatu makna yang ada pada zatnya serta terkait dengan waktu. Fi’il itu ada tiga:
1.    Fi’il Madhi (فعل الماضي)
2.    Fi’il Mudhori’ (فعل المضارع)
3.    Fi’il Amar (فعل الامر)
Penjelasan:
1.    Fi’il Madhi adalah kata kerja untuk masa lampau atau dalam istilah bahasa inggrisnya adalah past tense yang memiliki arti telah melakukan sesuatu. Contohnya: قَامَ (telah berdiri) atau جَلَسَ (telah duduk).
2.    Fi’il Mudhari’ adalah kata kerja yang memiliki arti sedang melakukan sesuatu atau dalam istilah bahasa inggrisnya present continues tense. Contohnya: يَقُوْمُ (sedang berdiri) atau يَجْلِسََُ (sedang duduk).
3.    Fi’il Amar adalah kata kerja untuk perintah. Contohnya قُمْ (bangunlah!) atau اِجْلِسْ(duduklah!).
Kedua: Isim (ألاِسْمُ)
Isim secara bahasa memiliki arti yang dinamakan atau nama atau kata benda. Sedangkan menurut ulama nahwu, isim adalah kata yang menunjukkan suatu makna yang ada pada zatnya akan tetapi tidak berkaitan dengan waktu. Isim itu terbagi-bagi menjadi beberapa jenis yang bisa dikelompokkan sesuai dengan kelompoknya. Karena isim banyak sekali, maka kita tidak membahasnya disini. Akan tetapi, untuk memberi pengertian dasar tentang isim, maka berikut contohnya: 


زَيْدٌ artinya Zaid (Isim ‘Alam = nama orang), 
جََاكَرْتَا artinya Jakarta (nama tempat), 
هَذَا artinya ini (kata tunjuk),  نَااَ artinya saya (kata ganti) dan contoh-contoh yang lain.
Ketiga: Huruf yang memiliki arti (الْحَرْفُ)
Huruf secara bahasa memilki arti huruf seperti yang kita kenal dalam bahasa indonesia ada 26 huruf. Sedangkan dalm bahasa arab kita mengenal ada 28 huruf yang kita kenal dengan huruf hijaiyah. Akan tetapi, huruf yang dimaksud disini bukan setiap huruf hijaiyah melainkan huruf hijaiyah yang memiliki arti seperti وَ(dan) فَ(maka) بِ(dengan)لِ (untuk) سَ(akan) كَ(seperti). Adapun huruf-huruf seperti Alif, Ta, Tsa, dan yang lain yang tidak memiliki arti maka tidak dapat menyusun suatu kalimat, melainkan hanya menyusun suatu kata saja.
Maka dapat kita simpulkan bahwa fi’il adalah kata kerja, isim adalah kata benda dan setiap kata selain kata kerja, dan huruf disini adalah setiap huruf hijaiyah yang memiliki arti. 








 





















KHABAR MUQADDAM

DAN

MUBTADA’ MUAKHKHAR



kita akan dapati perbedaan pada pembahasan mengenai khabar muqaddam dan mubtada’ muakhkhar. Di mana pada pembahasan ini mubtada terletak setelah khabar dan khabar terletak sebelum mubtada.
Oleh sebab itulah mubtada’ yang terletak di akhir atau setelah mubtada’disebut dengan mubtada’ muakhkhar (mubtada’ yang diakhirkan) dan khabar yang terletak sebelum mubtada disebut dengan khabar muqaddam (khabar yang didahulukan).

Contoh :
الْكِتَابُ, عَلَى الْمَكْتَبِ
Menjadi
· عَلَى الْمَكْتَبِ كِتَابٌ

Apabila kita perhatikan perubahan dua jumlah ismiyyah di atas, maka kita akan mendapatkan beberapa kesimpulan :
- Khabar yang dapat menjadi khabar muqaddam adalah berupa syibhul jumlah, tidak khabar yang berupa isim sifat.
- Pada perubahan mubtada muakhkhar, Alif Lam dihilangkan dan harakat menjadi tanwin (dhammatain/un).




FI'IL
فِعْل
(Kata Kerja)
Fi'il atau Kata Kerja dibagi atas dua golongan besar menurut waktu terjadinya:
1. FI'IL MADHY (
  مَاضِي فِعْل ) atau Kata Kerja Lampau.
2. FI'IL MUDHARI'
(  مُضَارِع فِعْل ) atau Kata Kerja Kini/Nanti.
Baik Fi'il Madhy maupun Fi'il Mudhari', senantiasa mengalami perubahan bentuk sesuai dengan jenis Dhamir dari Fa'il ( فَاعِل ) atau Pelaku pekerjaan itu. 
Untuk Fi'il Madhy, perubahan bentuk tersebut terjadi di akhir kata, sedangkan untuk Fi'il Mudhari', perubahan bentuknya terjadi di awal kata dan di akhir kata.

Dhamir
Fi'il Madhy
Fi'il Mudhari'
Tarjamah
أَنَا
فَعَلْتُ
أَفْعَلُ
= saya mengerjakan
نَحْنُ
فَعَلْنَا
نَفْعَلُ
= kami mengerjakan
أَنْتَ
فَعَلْتَ
تَفْعَلُ
= engkau (lk) mengerjakan
أَنْتِ
فَعَلْتِ
تَفْعَلِيْنَ
= engkau (pr) mengerjakan
أَنْتُمَا
فَعَلْتُمَا
تَفْعَلاَنِ
= kamu berdua mengerjakan
أَنْتُمْ
فَعَلْتُمْ
تَفْعَلُوْنَ
= kalian (lk) mengerjakan
أَنْتُنَّ
فَعَلْتُنَّ
تَفْعَلْنَ
= kalian (pr) mengerjakan
هُوَ
فَعَلَ
يَفْعَلُ
= dia (lk) mengerjakan
هِيَ
فَعَلَتْ
تَفْعَلُ
= dia (pr) mengerjakan
هُمَا
فَعَلاَ
يَفْعَلاَنِ
= mereka berdua (lk) mengerjakan
هُمَا
فَعَلَتَا
تَفْعَلاَنِ
= mereka berdua (pr) mengerjakan
هُمْ
فَعَلُوْا
يَفْعَلُوْنَ
= mereka (lk) mengerjakan
هُنَّ
فَعَلْنَ
يَفْعَلْنَ
= mereka (pr) mengerjakan


Isim Mudzakkar Dan Muannats
تَقْسِيْمُ الاِسْمِ بِالنَّظَرِ إِلَى نَوْعِهِ
(Pembagian Isim ditinjau dari segi jenisnya)
Dalam tata bahasa Arab, dikenal adanya penggolongan Isim ke dalam Mudzakkar (laki-laki) atau Muannats (perempuan). Penggolongan ini ada yang memang sesuai dengan jenis kelaminnya (untuk manusia dan hewan) dan adapula yang merupakan penggolongan secara bahasa saja (untuk benda dan lain-lain).
Contoh Isim Mudzakkar
Contoh Isim Muannats
عِيْسَى
(= 'Isa)
مَرْيَم
(= Maryam)
اِبْنٌ
(= putera)
بِنْتٌ
(= puteri)
بَقَرٌ
(= sapi jantan)
بَقَرَةٌ
(= sapi betina)
بَحْرٌ
(= laut)
رِيْحٌ
(= angin)

1. Isim Mudzakkar adalah isim yang menunjukkan jenis laki-laki
a. Isim Mudzakkar Haqiqi
Isim yang berasal dari kelompok makluk hidup yang berjenis kelamin laki-laki.
Contoh:
تِلْمِيْذٌ (Seorang siswa laki-laki)
أَسَدٌ (Seekor singa jantan)

b. Isim Mudzakkar Majazi
Ism yang berasal dari kelompok benda mati yang dianggap berjenis kelamin laki-laki berdasarkan kesepakatan orang arab.
Contoh:
بَيْتٌ (Sebuah rumah)
قَمَرٌ (Bulan)

2. Isim Muannats adalah isim yang menunjukkan jenis perempuan
A. Isim Muannats Haqiqi
Isim yang berasal dari kelompok makluk hidup yang berjenis kelamin perempuan.
Contoh:

\
مُدَرِّسَةٌ (Seorang pengajar perempuan)
هِرَّةٌ (Seekor kucing betina)

B. Isim Muannats Majazi
Isim yang berasal dari kelompok benda mati yang dianggap berjenis kelamin perempuan berdasarkan kesepakatan orang arab
Contoh:
دَارٌ (Sebuah perkampungan)
شَمْسٌ (Matahari)
Dari segi bentuknya, Isim Muannats biasanya ditandai dengan adanya tiga jenis huruf di belakangnya yaitu:
a) Ta Marbuthah (
 ة ). Misalnya: فَاطِمَة (=Fathimah), مَدْرَسَة (=sekolah)
b) Alif Maqshurah (
 ى ). Misalnya: سَلْمَى (=Salma), حَلْوَى (=manisan)
c) Alif Mamdudah (
 اء ). Misalnya: أَسْمَاء (=Asma'),  سَمْرَاء (=pirang)
Namun adapula Isim Muannats yang tidak menggunakan tanda-tanda di atas. 


Misalnya:
رِيْحٌ(= angin), نَفْسٌ (= jiwa, diri), شَمْسٌ (= matahari)

Bahkan ada pula beberapa Isim Mudzakkar yang menggunakan Ta Marbuthah.


Contoh: 
حَمْزَة (= Hamzah), طَلْحَة (= Thalhah), مُعَاوِيَة (= Muawiyah)










Jama' (جَمْعٌ)

Yaitu Isim yang menunjukkan jumlah banyak (lebih dari dua):

  1. Jama' Mudzakkar Salim (السَـالِـمُ الـمُـذَكَّـر جَـمْـعُ)
    Misal:
    Para muslim (
    مُـسْلِـمُـوْنَ - مُـسْلِـمِـيْـنَ) 
                        (muslimuuna atau muslimiina)

Cara membuat isim jama' mudzakkar salim:

“akhir kata isim mufrod ditambahkan dengan wawu dan nun yang didahului oleh harokat dhommah atau dengan ya’ dan nun yang didahului oleh harokat kasroh, dengan nun berharokat fathah

  1. Jama' Muannats Salim (السَـالِـمُ الـمُـؤَنَّـثِ جَـمْـعُ)
    Misal:
    Para muslimah (
    مُـسْلِـمَـاتٌ - مُـسْـلِـمَـاتٍ) 
                      (muslimaatun ataumuslimaatin)

Cara membuat jama' muannats salim:

“ta’ marbutoh pada isim mufrod muannats dihilangkan, kemudian harokat akhir dijadikan fathah, lalu ditambahi dengan alif dan ta’”

  1. Jama' Taksir (التَـكْسِـيْـرِ جَـمْـعُ)
    Misal : 
§  para lelaki (رِجَـالٌ), isim mufrodnya (رَجُـلٌ)
§  para ulama (عُـلَـمَـاءُ), isim mufrodnya (عَالِـمٌ)
§  buku-buku (كُـتُـبٌ), isim mufrodnya (كِتَـابٌ)
§  gunung-gunung (جِـبَـالٌ), isim mufrodnya (جَـبَلٌ)
Jama' taksir memiliki banyak pola dan tidak teratur, tidak seperti halnya jama' mudzakkar salim dan jama' muannats salim yang hanya memiliki satu pola. Untuk mengetahui jama' taksir suatu isim, maka sering-seringlah “melihat kamus”.



Huruf JAR

1. مِنْ (Dari)
خَرَجْتُ مِنَ الْمَنْزِل (Aku keluar dari rumah)
هَذِهِ الصَّدَقَةُ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ 
(Shadaqah ini dari orang-orang yang berbuat baik)

2. إِلَى (Ke)
سَأَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِد (Aku akan pergi ke masjid)

3. عَنْ (Dari)
هَذَا الْحَدِيْثُ رُوِيَ عَنْ عَائِشَةَ 
(Hadits ini diriwayatkan dari Aisyah)

4. عَلَى (Di atas)
اَلْكِتَاُب عَلَى الْمَكْتَب (Buku itu berada di atas meja)

5. فِي (Di dalam)
نَحْنُ نَطْلُبُ الْعِلْمَ فِي الْمَسْجِد 
(Kami menuntut ilmu di dalam masjid)

6. رُبَّ (Betapa banyak / sedikit)
رُبَّ عَمَلٍ صَالِحٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ 
(Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar nilainya disebabkan oleh niat)

7. بِ (Dengan)
كَتَبْتُ الدَّرْسَ بِالْقَلَم (Aku menulis pelajaran dengan pena)

8. كَ (Seperti)
عُمَرُ كَالأَسَدَ (Umar seperti singa)

9. لِ (Milik)
هَذَا الْكِتَابُ لِمُحَمَّدٍ (Kitab ini miliknya Muhammad)



10. حَتَّى (Sampai)
أَكَلْتُ السَّمَكَ حَتَّى رَأْسِه (Aku makan ikan sampai kepalanya)
11.  وَاوُ الْقَسَمِ (وَ)
وَاللهِ أَنَا مُسْلِمٌ (Demi Allah aku adalah seorang muslim)

12. تَاءُ الْقَسَمِ (تَ)
تَاللهِ أَنَا مُسْلِمٌ (Demi Allah aku adalah seorang muslim)

13, 14. مُنْذُ dan مُذْ (Sejak)
مَا رَأَيْتُهُ مُنْذُ الأُسْبُوْعِ الْمَاضِيَة 
(Aku tidak melihatnya semenjak seminggu yang lalu)

15, 16, 17. عَدَ ,خَلاَ dan حَاشَا (Selain / kecuali)
رَجَعَ الطُّلاَّبُ خَلاَ مُحَمَّدٍ 
(Para mahasiswa telah pulang kecuali Muhammad)


















             











Athaf
(اَلْعَطْفُ)
A. Pengertian Athaf 

Athaf adalah merupakan bab yang dibahas dalam Ilmu Nahwu, yang secara bahasa mempunyai arti mengikuti. Namun dalam istilah Nahwu akan mudah dipahami,kalau athaf itu dijelaskan dengan penggunaan kalimat (gramatikal arab) yang dirangkaiatau dicontohkan secara kalimat, meliputi huruf-huruf athaf dan kalimat yang diathafi.

B. Huruf-huruf Athaf 

Huruf-huruf Athaf (huruf-huruf yang untuk menggabungkan satu isim dangan isim yang lain, atau satu fi’il dengan fi’il yang lain dalam segi i’rob-nya) itu ada sepuluh huruf yaitu :

1. وَ (dan)
    Digunakan untuk sekedar menggabungkan dua kata atau lebih.
Contoh:
جَاءَ مُحَمَّدٌ وَحَسَنٌ وَسَعِيْدٌ (Muhammad, Hasan dan Sa’id telah datang)
2. فَ (maka)
Digunakan untuk menggabungkan dua kata atau lebih secara berurutan dengan tanpa adanya jeda (لِلتَّرْتِيْبِ مَعَ التَّعْقِيْبِ)
Contoh:
جَاءَ مُحَمَّدٌ فَحَسَنٌ فَسَعِيْدٌ (Muhammad datang, kemudian Hasan, kemudian Sa’id)
3. ثُمَّ (kemudian)
Digunakan untuk menggabungkan dua kata atau lebih secara berurutan dengan disertai adanya jeda (لِلتَّرْتِيْبِ مَعَ التَّرَاخِي)
Contoh:
دَخَلَ الْمَسْجِدَ مُحَمَّدٌ ثُمَّ حَسَنٌ (Muhammad masuk masjid kemudian -beberapa saat kemudian- Hasan)
4. أَوْ (atau)
Digunakan untuk menggabungkan dua kata atau lebih untuk menunjukkan sebuah pilihan atau untuk mengungkapkan keragu-raguan.
Contoh:




يُبَاحُ لِجَمْعِ الطُّلاَبِ لَعِبٌ أَوْ تَعَلُّمٌ فِي يَوْمِ الإِجَازَةِ 
(Dibolehkan bagi segenap mahasiswa untuk bermain atau belajar pada hari libur)
نَقَلَ الْخَبَرَ مُحَمَّدٌ أَوْ عَلِيٌّ (Yang menukil kabar adalah Muhammad atau Ali)


5. أَمْ (atau)
Digunakan untuk menggabungkan dua kata atau lebih guna menuntut suatu kejelasan. Huruf ini biasanya terletak setelah huruf istifham “a” (أَ)
Contoh:
هَلْ أَبُوْكَ مُهَنْدِسٌ أَمْ طَبِيْبٌ (Apakah Bapakmu seorang Insinyur ataukah Dokter?)

6. بَلْ (bahkan)

7. لَا (tidak)

8. حَتَّ (sehingga/sampai)

9. لَكِنْ  (akan tetapi)

10. إِمَّا (adakalanya)

         Pada contoh-contoh diatas, lafal yang ada sesudah wau (atau yang lainnya dari huruf athaf) disebut ma’tuf. Sedangkan lafal yang ada sebelum wau(atau yang lainnya dari huruf athaf) disebut ma’tuf alaih.
        
         kita dapat melihat bahwa ma’tuf mengikuti ma’tuf alaih dalam i’rab-nya (rafa’, nasab, jar, dan jazm). Oleh sebab itu, ma’tuf disebut pula tabi’ atau pengikut, sedangkan ma’tuf alaih disebut matbu’ atau yang diikuti.













Penutup

            Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, karena terbatasnya pengetahuan dan kekurangannya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.


              Terima kasih karena telah membaca dan mempelajari makalah ini. Kami banyak berharap pada pembaca memberikan kritik dan saran yang membangun kepada kami demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya


              Terakhir kami ucapkan, semoga bermanfaat bagi kita semua.Dan


Wabillahi taufik walhidayah
                                    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.  ^_^

No comments:

Post a Comment

Post a Comment